Firman TUHAN

Jumat Agung

Ayat : 1 Petrus 2:21-25

Oleh : Ps. Ishak Gunawan, M.Th

Mengikuti jejak Tuhan yesus

Saat kita memperingati hari “Jumat Agung” atau dalam bahasa inggris, yang disebut “Good Friday” atau hari “Jumat yang Baik”? Megnapa disebut hari baik? Karena Tuhan Yesus sudah mati untuk menebus dosa kita dan memerdekakan kita. Ada sebuah film yang sering kita lihat, yaitu film “Passion Of The Christ” itu semua karena kita.

Nah saat ini apa yang harus kita lakukan untuk meresponi kemerdekaan dan penebusan dosa yang sudah Tuhan bayar lunas ini? Dalam 1 Petrus 2 :21 – 25 “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.”

Jadi kita harus mengikuti teladan yang telah diberikan Tuhan Yesus. Tahukah saudara bahwa gembala saat menggembalakan itu bukan berdiri dibelakang domba, seperti yang dilakukan oleh bebek. Tetapi gembala itu berdiri didepan domba sambil mambawa tongkat dan dia berjalan dengan mengetukkan tongkatnya supaya domba mengikuti jejaknya. Saat ini siapa diantara kita yang dalam mengikuti Tuhan masih tersesat dan menyimpang, tidak mau mendengar lagi suara gembala, justru melupakan Tuhan. Hal ini membuat kita jatuh dalam berbagai kesukaran, beban hidup yang berat, bahkan sakit yang sangat berat bagi kita. Kehilangan orang yang kita kasihi, dan hal-hal yang berat dalam hidup kita. Sebagai contoh Naomi kehilangan semuanya, suami dan anak – anaknya.

Saat ini marilah kita kembali menemukan Tuhan Yesus, gembala yang baik yang memelihara jiwa kita, yang menyembuhkan kita dengan bilur – bilurnya, amin?

Jika kita mau menemukan Tuhan kembali, tentu kita harus mengikuti jejak Tuhan. empat jejak Tuhan yang harus kita ikuti saat ini. Yang pertama, pada ayat 22 ditulis “Tuhan Yesus tidak berbbuat dosa”. Kedua pada ayat 22 juga ditulis “tipu tidak ada dalam mulutNya”. Selanjutnya pada ayat 23 tertulis “Ia tidak membalas”. Dan yang terakhir pada ayat 23 juga tertulis “Ia tidak mengancam”. Sedangkan untuk manusia ada empat hal, yang walaupun manusia tidak diajarkan akan secara otomatis keluar, yaitu berbuat dosa, berbohong, membalas, dan mengancam.

1. Tuhan Yesus Tidak Berbuat Dosa
Manusia sedikit, sedikit berdosa, sedikit, sedikit berdosa, berdosa kok sedikit, sedikit. Bapak ibu dalam bahasa Yunani dosa menggunakan kata “harmatia” yang artinya meleset. Jadi kita meleset dari jalanNya Tuhan dan meleset dari perintahNya Tuhan, maka sama saja kita telah berbuat dosa. Sebagai contoh seharusnya gembala kesini, kita kesana. Keluar dari jalanNya Tuhan. Tuhan minta kita berdoa kita lebih suka yang lain. Namun Tuhan Yesus selalu melakukan seperti yang Bapa di surga, ketika Ia melakukan itu maka dikatakan Tuhan Yesus tidak berdosa.

Pak Toto dengan gembira mengajak anaknya, Dedi, bepergian ke Bandung naik kereta api. Seperti dugaan sang ayah, Dedi betul-betul menikmati perjalanannya. Pemandangan yang indah menggoda Dedi untuk sekali-sekali mengeluarkan kepalanya lewat jendela dan sekaligus menikmati terpaan angin yang sejuk itu.

Melihat apa yang dilakukan anaknya, sang ayah diam-diam mengambil topi yang dikenakan anaknya dan menyembunyikannya di balik tubuhnya yang gendut.

Pak Toto : “Dedi jangan mengeluarkan kepala dari jendela!!. Lihat topimu hilang diterbangkan angin.”

Dedi : “Wah sayang ya... topiku kan bagus.” (Sambil meraba kepalanya dan dengan keadaan kesal dan mengeluh)

Pak Toto : “Sudahlah, jangan menyesal. Sekarang tutup mata dulu, aku jamin topimu nanti pasti kembali.”

Ketika Dedi sedang memejamkan matanya, Pak Toto memasang kembali topi itu ke kepala anaknya.
Pak Toto : “Nah sekarang bukalah matamu.”

Dedi : (Meraba kepalanya dan tersenyum gembira.) “Sekarang ayah pejamkan mata!”

Ketika ayah sedang memejamkan matanya Dedi mengambil topi ayahnya dan melemparkannya ke luar jendela.

Dedi : “Nah, sekarang buka mata ayah, topi Ayah nanti pasti ditemukan oleh orang.”

Pak Toto cepat-cepat membuka mata tapi terkejut karena topinya betul-betul sudah terbang ke luar jendela.

2. Tipu Tidak Ada Di Dalam MulutNya

“Kalau kamu mau bekerja di sini, anak muda,” kata Kepala Personalia, “Kamu harus selalu menjaga kebersihan di perusahaan ini. Apakah tadi kamu membersihkan sepatumu di keset sebelum memasuki kantor ini?”

“Oh, sudah, Pak.”

“Dan satu lagi, kami juga sangat menghargai kejujuran. Di pintu depan kantor ini, harap kau ketahui anak muda, tidak pernah ada keset kaki!”

Titus 2:7 “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,”

Seorang pria yang sedang mengendarai mobilnya dan distop oleh seorang polisi lalu lintas. Terjadilah percakapan seperti berikut ini:

Pria : "Ada masalah apa Pak?"
Polisi : "Anda mengendarai mobil dengan kecepatan 75 di zona 55."
Pria : "Tidak mungkin Pak. Saya hanya melaju dengan kecepatan 65."
Istri pria itu berkata : "Oh, Harry. Bukankah kamu melaju dengan kecepatan 80?"
[Si pria memandang istrinya dengan wajah yang masam.]

Polisi : "Saya juga memberikan kartu tilang karena lampu belakang mobil anda mati."
Pria : "Lampu belakang mati? Saya tidak tahu kalau lampu belakang mobil saya rusak."
Istri : "Oh Harry, bukankah kamu sudah mengetahui kerusakan lampu belakang itu beberapa minggu yang lalu.
[Kembali Harry memandang istrinya dengan masam.]

Polisi : "Saya juga akan memberikan surat panggilan karena anda tidak memakai sabuk pengaman."
Pria : "Oh, saya baru saja melepasnya saat anda berjalan kemari."
Istri : "Oh, Harry, kamu kan tidak pernah memakai sabuk pengaman."
Pria itu memandang istrinya sambil berteriak, "Tutup mulutmu!"
Polisi itu lalu bertanya pada si istri, "Apakah suami anda selalu berbicara seperti itu?"
Istri : "Tidak, hanya kalau dia lagi mabuk saja."

Yeremia 8:6 “Aku telah memperhatikan dan mendengarkan: mereka tidak berkata dengan jujur! Tidak ada yang menyesal karena kejahatannya dengan mengatakan: Apakah yang telah kulakukan ini! Sambil berlari semua mereka berpaling, seperti kuda yang menceburkan diri ke dalam pertempuran.”

Seorang ibu yang sedang berbelanja di pasar bermaksud membeli ayam di tukang ayam langganannya. Saat itu, sudah agak siang sehingga persediaan ayam yang dimiliki si tukang ayam tinggal satu ekor.

Setelah ditimbang, si tukang ayam mengatakan harga yang harus dibayar oleh si ibu, “Harganya Rp 17.000, Bu,” katanya.

“Apakah masih ada persediaan ayam yang lain? Saya ingin membeli yang sedikit lebih besar,” tanya ibu tersebut.

Tukang ayam tersebut masuk ke belakang dan berpura-pura mengambilkan ayam yang lain. Kemudian, keluar lagi dengan membawa ayam yang sama, “Kalau yang ini Rp 20.000, Bu, karena lebih besar dan berat,” tukang ayam tersebut berbohong.

Ibu tersebut mengeluarkan dompet sambil berkata, "Setelah saya pikir-pikir, saya ingin membeli kedua-duanya, ayam yang besar dan kecil tadi."

Seorang guru Sekolah Minggu sedang mengajar di kelasnya. Sesaat sebelum dia membubarkan kelasnya dan mengajak murid-muridnya untuk beribadah di gereja, dia mengajukan pertanyaan kepada mereka, “Mengapa kita harus tenang dan tidak boleh berisik di gereja?”

Si kecil Johnny cepaat-cepat mengangkat tangannya karena merasa tahu jawabannya, “Karena semua orang sedang tidur, Kak!”

3. Ia Tidak Membalas Cacian

Seorang ibu tersedu-sedan mengadu kepada pendetanya, karena mendapat perlakuan tidak senonoh dari suaminya yang ringan tangan. Percekcokan selalu mewarnai kehidupan keluarga itu.

Maka, pendeta pun bertanya, "Sudahkah Ibu menumpukkan bara api di atas kepalanya?" (Maksud pendeta adalah membalas kejahatan dengan kebaikan/kasih seperti dalam Roma 12:20).

Tetapi, rupanya ibu itu salah paham. Maka dengan antusias dan spontanitas sambil mengusap air mata ibu itu berkata, "Kalau bara api sih belum pernah, tapi kalau kopi panas, sering..."

Roma 12:20 “Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.”

Pada suatu hari keluarga seorang Pendeta sedang berkendara untuk menghadiri suatu ibadah Natal. Maka dengan penuh sukacita Pak Pendeta bersama keluarganya menuju tempat yang tertera dalam undangan.

Sesampainya di tempat yang dituju ternyata halaman parkir telah dipenuhi oleh para undangan lain. Nampaknya ibadah ini cukup menarik minat banyak orang. Setelah berputar-putar, beruntung ternyata terdapat satu tempat parkir diantara mobil – mobil yang penuh sesak dan disana sudah menunggu si tukang parkir.

Melihat mobil Pak Pendeta, dengan gesit tukang parkir memberikan tanda dan Pak Pendeta menghampirinya.

Setelah mengarahkan kendaraan ke tempat yang tersedia si tukang parkir dengan aba – abanya, “terus ... terus... kiri ... kiri ....”

Dengan gesit Pak Pendeta mengikutinya. Tukang parkir terus mengarahkan, “balas ... balas ... balas ....”

Dan tiba-tiba terdengar bunyi "DUK". Ternyata bemper mobil Pak Pendeta menyeruduk mobil lain. Dengan agak marah si tukang parkir menegor, “Bagaimana Bapak ini ... kan sudah saya arahkan balas ... balas ... malah terus saja.”

Dengan tenang Pak Pendeta balas menjawab, "Dik ... saya ini Pendeta, harus mengasihi setiap orang dan dilarang membalas."

Roma 12:19 “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.”

4. Ia Tidak Mengancam
Untuk yang kesekian kalinya, Ibu Santi datang menemui pendetanya untuk mengeluhkan hal yang sama, “Saya sangat takut Pak Pendeta. Suami saya terus mengancam akan membunuh saya kalau saya datang ke gereja Anda.”

Dengan perasaan bosan karena laporan itu sudah yang kesekian kalinya, sang pendeta menjawab, “Ya ... ya ... ya, saya akan terus berdoa untuk Ibu. Namun, Ibu harus memiliki iman dan percaya bahwa Tuhan akan menjaga Ibu.”

“Oh, tentu saja Pak Pendeta, Tuhan sudah melindungi saya sejauh ini, tetapi ...” muka Ibu Santi terlihat lebih cemas dari biasanya.

“Kenapa, Bu?” tanya sang pendeta.

“Kali ini, suami saya mengancam akan membunuh ANDA!”

“Baiklah,” kata sang pendeta, “Saya rasa sudah waktunya Ibu mencoba gereja baru di ujung jalan sana.”

[Sumber diambil dan diterjemahkan dari:
http://jokes.christiansunite.com/Faith/Have_Faith_My_Child.shtml]

1 Korintus 2:5 “supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.”

Saat ini apakah kita telah menyimpang dan tersesat, sehingga kita tidak bisa menemukan lagi gembala kita? Jadi saat ini mari kita kembali mengikuti jejak Tuhan.

Edisi - 23 Feb 2020

download

Edisi - 16 Feb 2020

download

Shallom

Kami sangat senang dengan kunjungan Saudara/i dan berdoa agar Saudara/i menerima berkat Tuhan Yesus yang melimpah melalui website ini.

Mari bergabung bersama dalam Ibadah kami yang disertai dengan doa, pujian, dan penyembahan, biarlah Firman Tuhan Yesus menjamah dan memberkati kehidupan Saudara/i.